Recap PSS Sleman 2021/2022
Riuh senang gembira saat PSS Sleman bertahan di Liga 1 masih terasa hingga saat ini. Di lingkunganku terdengar sayup – sayup anak-anak terus melayangkan chant di depan rumahku yang terdapat bendera yang ku pasang tempo hari. Ku mendengar dengan rasa syukur dimana anak – anak kecil yag mungkin tak tau ruwetnya Liga di negeri ini masih mengenal tim kebanggan Sleman ini. “ALE…ALE.. Sleman ALE….” Begitulah kira – kira aku mendengarnya. Sajaknya “PSSkan Sekitarmu!”, nampaknya menusuk di semua kalangan masyarakat Sleman hingga kini. Kecintaan terhadap PSS Sleman terus terasa hangat dari waktu ke waktu. Memunculkan banyak presepsi tentang PSS Sleman dari kacamata kecintaan yang terus di beri.
Melirik tidak jauh di musim 2021/2022 bisa di bilang menjadi yang terberat bagi PSS Sleman. Persoalan di mulai dari di larangnya penonton di stadion, sorotan bek kiri yang menuai pertanyaan yang tak kunjung selesai kala itu, merembet ke pelatih yang dinilai mudah di intervensi, hubungan management dengan tim serta supporter, hingga perkara menyoal pemegang saham.
Putaran pertama tak ada yang signifikan dari perubahan pola taktik yang di lakukan oleh seorang coach DA. Kritik yang di layangkan pada turnamen pra-musim seakaan tak di dengar. Sahabat yang sering terngiang saat itu adalah kata –kata Evaluasi yang menjadi EvaKuasi dan Maksimal yang menjasi MakSial. Mulai pola permainan yang bobrok, merembetlah ke manajemen yang terlihat kurang kompeten dalam bersilahturahmi dengan Fans. Mulai dari konten berbayar yang “katanya” eksklusif yang gak eksklusif, Pernyataan yang blunder soal series 3 kembali di lanjutkan di Jakarta Dirut Utama kala itu di pegang oleh MGP mulai tak terkendali setelah blunder soal pemindahan homebase PSS Sleman ke tempat lain, Lalu di lanjutkan dengan dialog yang tak ada jalan keluar yang terlihat menejemen saat itu sangat tertutup dengan apa yang terjadi di PSS Sleman. Memaksa Sleman Fans untuk bertemu langsung dengan pemilik saham mayoritas PSS Sleman. Maka terungkaplah ESS sebagai pemegang saham mayoritas PSS bersama AP.
Bersyukur setelah banyak hal yang terjadi, pemegang saham segera memberikan keputusan secara tepat dengan mencopot MGP dan di gantikan oleh AWP selaku Dirut yang baru. Terakhir, terdengar kabar jika AP membeli saham ESS. Dengan langkah yang cepat pertengahan putaran kedua pemecatan DA, DF dan AI segera di lakukan oleh menejemen yang baru. Sleman Fans yang tumpah ruah di Tridadi untuk penyambutan tim PSS kala itu yang bisa untuk kembali ke pelukan bumi sembada. Meski sebelumnya di cekal oleh beberapa oknum dari dalam tubuh PSS.
Di putaran kedua, pengangkatan dewan penasehat dan tim teknis serta penunjukan dengan IPG sebagai pelatih baru dan transfer pemain yang banyak secara kuantitas, cukup terlihat menjanjikan di laga pertama. Namun, tren kemenangan cukup jauh dari harapan. Kemenangan saakan terus menjauh, hingga mrosot ke mulut lubang degradasi. Sangat kurang mengenakkan ketika permasalahan intern selesai, namun performa tim tak kunjung membaik. Hingga Sleman Fans berbondong bondong ke Bali (series 4 dan 5). Terhitung 3x Sleman Fans datang ke Bali untuk memberikan dukungan moril kepada seluruh punggawa. Dan cukup berhasil mendapatkan 2 kemenangan di laga sisa dan berhasil keluar dari degradasi, dengan finish di posisi 13.
Perayaan lolosnya PSS Sleman dari zona degradasi musim ini memang seperti penutup dari setiap series PSS Sleman yang kiranya banyak sekali hal yang terjadi di musim itu. Bukan sebuah trofi yang di dapat, tapi kesungguhan dari seluruh usaha memang sudah terbayarkan. Hingga kini, masih terus terucap syukur dengan berbagai nadzar yang terkumandang oleh seluruh Sleman Fans. Semoga, Musim depan PSS tak perlu mengurai hal ksusut lagi. Sehingga Fokus PSS benar – benar terwujud.
Komentar
Posting Komentar