004 #BacktoFuture : Melihat kembali PS Sleman di Divisi Utama 2006


           Di tahun ini, yaitu tahun 2006 perjalanan PS Sleman cukup banyak halangan mengingat pada tahun tersebut adalah puncak dari penurunan prestasi dari PS Sleman. Mengingat di akhir musim PS Sleman harus mudur di tengah kompetisi lantaran masalah bencana alam yang meluluh lantahkan DIY. Tanda – tanda penurunan tersebut sebenarnya sudah terlihat kala PS Sleman mengganti nahkoda kepelatihan yang mulanya adalah Daniel Roekito yang hijrah ke Persik Kediri dan manajemen klub akhirnya menjatuhkan pilihan pada sosok Mundari Karya, yang notabene di musim 2005 adalah Assiten pelatih di Pelita Krakatau Steel. Mengalahkan calon – calon pelatih lainnya seperti Iwan Setiawan, Yudhi Suryata dan Yusack Susanto. Namun, sayang sekali karena adanya penyakit yang di derita oleh coach Mundari Karya (Operasi Ginjal), yang sebelumnya hanya mendampingi PS Sleman 1 laga resmi melawan Arema Malang di Copa Dji Sam Soe. Manajemen bergerak cepat untuk mendapatkan penggati dari Mundari Karya, yang akhirnya manajemen menjatuhkan pilihan pada coach Hery Kiswantoro yang pada musim 2005 menangani Persikabo Kabupaten Bogor.
Sudah selesai dengan urusan kepelatihan, manajemen bergerak dengan mencoba untuk mempertahankan pemain yang sudah ada. Rencana awal separuh pemain akan di pertahankan. Termasuk Seto Nurdiyantoro, Fajar Listiantoro dan M. Eksan. Namun, negosiasi dengn pemain yang di pertahankan cukup alot, sehingga beberapa pemain (pemain kunci menurutku) harus berpindah klub. Banyak pemain yang tidak menemukan kata sepakat dengan PS Sleman kala itu, Seperti Fajar Listiantoro, Seto Nurdiyanto dan Nugroho Adiyono ke PSIM , M. Eksan, Parjono dan FX Yanuar Arientoko ke Persiba Bantul, Talaohu Abdul Musafri dan Kahayudi Wahyu ke Persiba Balikpapan, Bona Simanjuntka ke PSMS, Rudi Widodo ke Persiter Ternate dan banyak lagi. Rencana awal menuju kerangka tim yang sudah di bangun oleh Daniel Roekito akhirnya harus di ulang kembali. Untungnya pemain asing dari PS Sleman berhasil di perbarui kontraknya. Seperti Anderson da Silva, Denilson, George Oye Depo dan Tanasit Tong In.
Penambala pemain di lakukan oleh manajemen PS Sleman saat itu dengan mendatangkan pemain – pemain baru. Diantaranya M. Arief dan Febi Sofi L. dari Pelita KS, Arief Syafarudin dari Persiba, Imam Said Al Bana dari PM Mojokerto Putra, Andri Yoga dari Persisam Putra Samarinda, Asmed dari Barito Putra, Slamet Nur Cahyo dari Persebaya Surabaya, serta memborong pemain Persijap Jepara yaitu Bagus Cahyo, Dicky Fajar, Agus Prasetyo dan Dwi Adi Nugroho. Tak luput penambahan pemain asing juga di lakukan dengan mendatangkan Adelfo Luis Fatecha dari Persija dan Carlos Nadalich dari Atletico Policial de Catamarca yang sekarang ini berada di Divisi 4 Liga Argentina. Publik Sleman juga di kejutkan dengan datangnya Rochi Putiray dari PSPS Pekan baru di pertengahan musim bersama dengan Kurniawan Dwi Yulianto dari Sarawak FC.
Di mulainya kompetisi PS Sleman yang bisa di bilang kehilangan separuh pemainnya memulai Liga Djarum Divisi Utama 2006 di putaran pertama dengan penampilan yang di bilang cukup baik, di 13 partai yang di jalani PS Sleman melakoni laga dengan 10 tanpa kekalahan dan sisanya kalah. Di putaran kedua dengan amunisi yang di perbarui PS Sleman belum bisa mencatatkan hasil yang mengesankan, dari 7 partai di awal putaran dua, PS Sleman hanya memperoleh 2 kemenangan dan 1 hasil seri, selebihnya kekalahan yang terus di tuai oleh klub kabupaten ini. Namun, di tanggal 27 mei 2006 terjadilah tragedy yang meluluh lantahkan DIY termasuk persepakbolaan Sleman. Gempa yang mengguncang DIY sungguh amat memberikan pukulan telak untuk warga DIY waktu itu. Para pemain dan official tim waktu itu mengalami kerugian materil dan trauma mendalam. Bahkan Fatecha dan George Oye Depo tak berani untuk tidur di rumah, mereka terpaksa tidur di dalam mobil yang di karekana trauma aka nada gempa susulan terjadi. Stadion Tridadi juga mengalami kerusakan, yang paling terlihat adalah di bagian tribun terlihat retak yang cukup tingga. Selain itu, pembangunan stadion Maguwoharjo juga di hentikan karena anggaran yang di gunakan untuk membangun dan memperbaiki di alihkan untuk anggaran kemanusiaan. Dengan, keadaan seperti itu, PS Sleman mengundurkan diri dari kompetisi, sekaligus tim saat itu di bubarkan. Langkah tersebut membuat PS Sleman turun merosot ke peringkat 13 di akhir kompetisi. Namun, wacana PSSI yang sangat mengejutkan adalah ketidak adanya degradasi pada musim tersebut sehingga PS Sleman masih berhak untuk berkompetisi di Liga teratas untuk musim depan.
Sebagai Catatan Liga Djarum Divisi Utama 2006 di ikuti oleh 28 klub dengan pembagian 2 wilayah (Barat dan Timur) yang masiing terdiri dari 14 klub dalam satu wilayah, dilaksanakan pada 14 Januari hingga 1 April 2006 untuk putaran 1 dan 8 April hingga 24 Juni 2006 untuk putaran 2. Dengan PS Sleman mendapatkan slot di wilayah Timur wilayah satu bersama Persemin, Persik, PSM,Persiba Balikpapan, Persiwa,Persela, Persema, Persipura,Persiter,Pupuk Kaltim, Persibom, Deltras dan Persegi. Dan Sebagai juaranya adalah Persik Kediri setelah di pertain final mengalahkan PSIS Semarang 1-0. Gol terbanyak di cetak C. Gonzalez dengan raihan 29 goal. Dan Maman Abdurrahman kluar sebagai pemain terbaik.


Sumber
http://www.rsssf.com/tablesi/indo06.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

12 #TulisanRingan : LIGA INDONESIA, KAPAN?

"Bengal Brigade" Ultras ber-Akulturasi

13 #BacktoFuture : Sejarah yang terulang PS Sleman 2018