8 #TulisanRingan: Merindu dan Keresahan untuk PS Sleman
Sampai detik
ini ku hingga lupa kapan terakhir “nribun”. Merindukan tribun dan PS Sleman
yang cukup memberika “Shock Therapy”
dalam hidup. Ada sesuatu yang kurang saat ku melewati hari – hari. Jangankan “nribun”,
hari ini tanggal berapa pun aku juga sudah sedikit lupa. Setiap hari hanya
bermimpi masuk ke stadion yang riuh dengan suara chant – chant yang masih
berusaha di lafalkan agar ku tak ku lupa. Ahhh… entah kapan ini akan terjadi
seperti ini, ku sudah amat rindu dengan PS Sleman, tribun dan melafalkan chant.
Mungkin ketika pandemik ini sudah berakhir, ku ingin sekali mendatangi “rumah”
di Maguwoharjo. Tapi kapan ?, Jika rindu saat ini, yang mungkin ku lakukan
hanya sekedar lewat dan berhenti sejenak untuk mengobati sedikit rinduku ini. Rasanya
ini kali keduaku rindu dengan PS Sleman sebelum gempa dan erupsi tahun – tahun sebelumnya.
Gempa 2006 yang cukup mengguncang hingga PS Sleman harus berhenti di tengah
kompetisi karena terkena dampak baik materi maupun psikis. Tahun 2010 pun ada
erupsi dari merapi. Dampak yang sangat
luas terkena abu vulkanik dan banyak masyarakat lereng gunung merapi banyak yang
mengungsi, yang salah satu untuk singgah (meski sementara) adalah di stadion
Maguwoharjo. Kedua peristiwa tersebut membuatku jauh dari sepak bola dan PS
Sleman. Dan sekarang ada pandemik yang cukup serius di seluruh dunia. Membuatku
kembali jauh dengan PS Sleman.
Secara
tidak langsung yang kurasakan hingga saat ini adalah memang banyak rintangan
dan halangan untuk menjadi pelafal chant di tribun untuk PS Sleman. Belum lama
merasakan riuhnya liga 1, ku harus sudah merasakan musibah yang seperti ini, mentalita
terus di uji dan di tempa dari waktu ke waktu, mungkinkah tuhan juga cukup
sayang dengan PS Sleman?, melihat persiapan liga tahun 2020 ini tak begitu
ciamik ? sehingga scenario tuhan yang cukup luar biasa ini, memberikan PS Sleman
nafas untuk menata kembali Klub ini?, agar bila liga kembali bergulir PS Sleman
mempunyai waktu yang cukup menata kembali klub yang awal tahun ini cukup banyak
peristiwa. Yahh… agar tak di benci tuhan, pikiranku terus saja berprasangka positif
seperti itu. Jika untuk kemajuan klub ini ku tetap rela di belenggu candu ini.
Ku masih berharap ending yang cukup bahagia, hingga nanti masih bisa melafalkan
doa di tribun bersama. Stay safe Stay Home !
Ijat
Komentar
Posting Komentar