03 #TulisanRingan : Nama PSS kuno ?
Mungkin teman – teman pernah dengar
sentilan sesorang dengan statmen yang kurang lebih begini,”Kenapa sih namanya
PSS, buka Sleman City Club atau Sleman Soccer Club ?”. Mungkin untuk menjawab
pertanyaan hal semacam ini beberapa Slema Fans masih bingung buat jelasinnya ?,
Atau cuman di jawab sebisanya apa malah benci sama orang yang Tanya hal itu ?.
Untuk menjawab ini sebenarnya cukup panjang, karena ini berhubungan erat dengan
tahun dimana LIga Indonesia melebur menjadi satu. Yaaa… sudah banyak sih
artikel yang membahas hal ini, tapi tetap ku tulis di rubik ini dengan tagline
#Resonansi. Oke kita coba mulai …
PS Sleman terbentuk pada tahun 1976,
jauh sebelum PSSI terbentuk (1930). Namun, PS Sleman bukan sebuah klub pada
awalnya. Sama halnya seperti klub di luar negeri, PS Sleman terbentuk karena
sebuah kemunitas pecinta bola yang bersatu. Saat itu 5 komunitas (yang ku
bilang sebelumnya adalah klub). Dan membentuk sebuah perkumpulan yang di namai
PS Sleman. Dan menjadi satu – satunya liga yang ada di Indonesia. Namun, tahun Mulai tahun 1979 Persatuan Sepak bola Seluruh
Indonesia (PSSI) menyelenggarakan kompetisi sepak bola
semiprofesional, diberi nama Liga Sepak Bola Utama disingkat menjadi Galatama.
Galatama merupakan salah satu pioner kompetisi semiprofesional dan profesional
di Asia selain Liga Hong Kong.
Nah, Kita bahas galatama dulu. Ada yang masih kenal
dengan Pelita Jaya, Semen Padang atau Krama Yudha Tiga Berlian ?, Klub – klub tersebut
adalah salah satu klub dari Galatama, mungkin Semen Padang yang masih terdengar
hingga sekarang. Jadi, klub – klub dari galatama ini singkatnya adalah klub yang
di biayai oleh perusahaan, BUMN atau pengusaha kaya yang gila bola. Nah, maka
pengelolaan tidak terkait dengan birokrasi. Era Galatama juga cukup baik dimana
di ajang Liga Champions Asia, klub Kramayudha Tiga Berlian sukses menjadi juara
tiga kompetisi tersebut. Sedangkan Pelita Jaya, Pupuk Kaltim melaju jauh ke babak
empat besar Liga Champions Asia, sementara Semen Padang pernah mengalahkan tim
elit Yokohama Marinos dari Jepang dengan skor 2-1.
Nah cukup mentereng bukan ? . Tapi sayang,
pamor Liga galatama yang sempat meroket harus turun yang di karenakan banyak hal,
mulai kasus suap, korupsi hingga pengaturan skor membuat banyak klub dari
galatama harus mengundurkan diri.
Sedangkan untuk Perserikatan khususnya PS Sleman, adalah
sebuah Liga daerah yang masih di bilang amatir. Karena PS Sleman itu adalah
sebuah Liga Intern yang di persiapkan untuk ikut dalam turnamen Nasional. Beda
dari tim galatama, banyak sekali tim dari perserikatan, termasuk PS Sleman
masih di sokong oleh dana APBD di karekan masih amatir. Dan prestasi PS Sleman
tidak melejit begitu saja. Banyak hal yang di lalui oleh PS Sleman untuk menapakki
liga Nasional tersebut. Mungkin akan relate jika membaca sejarah awal PS Sleman
di tahun 1976 di tulisan sebelumnya.
Nah, masalah mulai muncul dari PS Sleman di tahun 1994 ketika
Liga Galatama dan Perserikatan di gabung oleh PSSI, dan menjadi LIga Indonesia.
Terjadi kontra dan sangat memberatkan pada tim Perserikatan, termasuk PS
Sleman. Kendatinya PS Sleman dan tim Perserikatan yang lain “dipaksa” untuk
menjadi klub mengikuti galatama. Sehingga, dari segi pendanaan PS Sleman belum
mampu untuk membiayai kebutuhan primer klub secara professional. Terkatung –
katung soal pendanaan, akhirnya PS Sleman di ambil alih oleh bupati saat itu
Arifin Ilyas di tahun 1996 yang dalam prakteknya menurutku PSSI terlalu abu –
abu peraturannya, karena sebelumnya jelas bahwa Perserikatan termasuk PS Sleman
tidak lagi menggunakan anggaran negara. Tapi, mulai bisalah PS Sleman mendapat
suntikan dana dan memenuhi primer kebutuhan klubnya. Untuk sisanya silahkan
baca kembali awal mula PSSleman di tahun 1976 hingga 2019. Nah, loncat ke tahun
2011 dimana APBD kembali di larang untuk membiayai klub serta di wajibkan klub
harus berbadan hukum, dan PS Sleman kembali kesulitan dana pada awalnya. Namun,
tahun 2012 barulah di sahkan PT PSS yang menaungi PS Sleman hingga saat ini
(terhitung 2020).
Kurang lebih begitu alurnya. Jadi dengan historis yang
sebegitu panjangnya, apa iya rela PS Sleman ganti nama ? Atau nama PS Sleman
kurang modern dan terkesan kuno ?, Menurutku sebuah klub yang besar adalah klub
yang masih punya histori tersendiri di dalam perjalannya. Maka dengan berganti
nama kemungkinan besar untuk menghilangkan atau mengubur sejarah. Yahh, benar
sejarahnya baru, namun tak sama. Di tambah lagi kenapa di jadikan persoalan
dengan nama PS Sleman ?, Di eropa klub besar seperti Liverpool FC, Manchester
United FC atau yang lainnya karena memang kultur bahasa inggris. Jadi apa salahnya
kita mengangkat kultur bahasa Indonesia ?, toh ya memang seperti itu KBBI kita
dengan bahasa Indonesianya. Kalau di bilang kurang menujual dengan nama PS
Slema, yaa ku kira salah juga. Buktinya PS Sleman ada 26 Sponsor di tahun 2020,
dan terbanyak di musim 2020. Jangan di samakan dengan tim lain, semisal Bali
United dan Madura United. Klub tersebut juga mempunyai latar belakang sendiri
mengapa klub tersebut ada. Jadi setiap daerahpun membangun kultur sepakbola
sendiri – sendiri. Ku juga masih bersyukur ketika PS Sleman masih mempertahakan
namanya hingga sekarang karena unsur historisnya.
Udah segitu aja
bahasannya, mungkin ada yang kurang jelas atau kesalahan mohon di maafkan,
karena minmin juga manusia…..
Sumber :
https://www.panditfootball.com/pandit-sharing/210868/PSH/180117/penggabungan-galatama-dan-perserikatan-penyebab-sepakbola-indonesia-tak-berprestasi
https://id.wikipedia.org/wiki/Liga_Sepak_Bola_Utama
https://fandom.id/artikel/feature/sejarah/sepenggal-kisah-galatama/
https://id.wikipedia.org/wiki/PSS_Sleman
Komentar
Posting Komentar