6 #TulisanRingan : Candu Rindu
Ku mula mengetik tulisan ini dengan bermodalkan laptop pinjman yang sudah usang. Dimana tidak semua angka dan huruf tak tersingkron dengan baik. Namun, biarakan aku melanjutkan dengan apa yang aku bisa lakukan di rumah. Di tengah pandemi yang tak kunjung selesai, di rumah adalah himbauan dari pemerintah untuk saat ini. Hingga keadaan lengang dan sepi. Sebuah makhluk yang tak kasat oleh mata berhasil menumbangkan banyak orang di dunia. Bak seperti artis yang di bicarakan oleh media, makhluk kecil ini terus menggila menebarkan ancaman yang pelan-pelan membuat banyak orang sangat ketakutan. Ketakutan terjangkit dan tumbang seperti yang sudah sudah. Maka, membuat keputusan untuk di rumah saja ku rasa wajar seperti halnya di bagian negara lain untuk menghentikan pandemik yang tak kunjung reda.
Sepak bola yang merupakan salah satu mukjizat dai Tuhan yang menurutku banyak sekali sekelumit di dalamnya terkena dampaknya yang cukup besar. Hingga saat ini sepak bola Indonesia harus memberhentikan kompetisi sepak bola hingga batas yang tidak di tentukan, atau mungkin lebih ketiadaannya liga tahun ini. Sudah berapa banyak kerugian dan kebingungan orang yang bertumpu pada sepak bola, Sepak bola tidak hanya soal kedua klub yang mencetak banyak skor, tapi juga bnyak hal hal kecil di dalamnya.
Namun aku cukup haus untuk datang berdiri di tribun untuk mendukung PS Sleman berlaga. Hingga detik ini ku ta pernah menyambangi kembali rumah keduaku itu. Entah sperti apa rupa dari rumahku itu, yang terlintas ketika ku mengingat rumah itu adalah sebuah ketulusan dan doa yang di barengi oleh kebersamaan. Aku seperti puasa yang tiada hentinya, melihat hingga saat ini keadaan belum membaik sepenuhnya. Serasa hanya melakukan loop activity yang entah tujuannya untuk apa. Ku bisa mengingat terakhir kali bersua di MIS, bersuka cita dan bersyukur atas bertahannya PS Sleman di liga 1. Bernyanyi bersama, merayakan hal yang sama dan masih dalam balutan doa yang tiada henti- hentinya untuk menjadi lebih baik di waktu yang akan datang. Setelahnya, banyak gigs yang terslenggara dan banyak orang merayakannya sambil terus terucap doa dan harapan untuk PS Sleman. Setelah pamdemik ini datang, mulailah gigs yang merupakan sebuah “ibadah” Sleman Fans mulai tunda. Tak ada teriakan berbarengan dengan menegak hangatnya kopi atau wine lokal. Ku rindu semua hal tentang tribun dan di baliknya, ku rindu hal – hal yang bisa kita teriakan. Candu ini akan terus membesar beriringan dengan denyut doa yang terus ku panjatkan agar semua ini berakhir dengan bahagia.
"Football it god's gift to humanity"
"Without football, my life is wroth nothing"
Komentar
Posting Komentar