3 #TulisanRingan : Tragedi Heysle
Final Piala Champion atau Liga Champion 985 mempertemukan Liverpool dan Juventus. Saat itu, Liverpool sedang dalam trend positif karena mencoba mempertahankan kembali gelar Piala Champion yang di menangkan musim sebelumnya. Sedangkan Juventus, sedang dalam puncak peforma karena tak menelan kekalahan sekalipun selama Piala Champion 1985. Saat itu masing – masing klub juga di perkuat Michael Platini di Juventus dan Liverpool ada Kenny Dalgish.
Stadion Heysle berada di kota Brussel, Belgia. Yang kala itu, sebenarnya tidak terlalu terawat dan jarang di gunakan. Yang bahkan menurut The Times, Presiden klub Gianpiero Boniperti dan CEO Liverpool Peter Robinson sampai meminta pada UEFA untuk memindahkan lokasi final tersebut karena kurang sekali dari sisi penunjang sebagai stadion yang di gunakan untuk final piala Chamnpion 1985. Namun, LA Republica permintaan kedua belak pihak akhirnya di tolak, yang artinya pertandingan tetap berlangsung di stadion heysle.
Akhirnya, hari pertandingan telah tiba. Liverpoolian yang kala itu datang ke stadion heysle dengan masih kental dengan Hooligan-nya bertemu dengan Juventini yang waktu itu budaya Ultras melekat kuat di Italy. Yaa jelas keduanya saling membentuk chaos yang bahkan masih berada di luar stadion. Dan bisa di kira – kira dengan crowd semacam itu di tambah masa yang kurang bisa terkendali, pihak keamanan pastinya kewalahan untuk meredam kerumunan dua supporter besar tersebut. Selain itu, banyak sekali calo tiket yang berkeliaran di sekitar stadion. Di tambah lagi tiket yang harusnya di jual untuk Liverpoolian malah di jual ke Juventini, ya maksudnya kedua supporter ini biar berada jauh saat pertandingan agar tidak terjadi chaos. Ya seperti di MIS , Tribun Utara dan Selatan gitu. Karena banyak calo ini, banyak Supporter yang tidak kebagian tiket memaksa masuk dengan memanjat tembok di stadion Heysle tersebut. Sehingga bisa di pastikan tribun akan mengalami Over Capacity. Sebelum pertandingan berlangsungpun di dalam stadion, Liverpoolian dan Juventini kala itu masih terbilang panas, pembatas besi masih ada kala itu yang membatasi kedua supporter. Hingga chaos semakin menjadi ketika banyak lemparan batu dari “Potekan” reruntuhan stadion terjadi. Kedua supporter menjauhi pagar pembatas untuk menghindari lemparan batu, hingga peluit pertandingan terjadi chaos yang begitu besar terus terjadi. Hingga pada puncaknya tribun runtuh karena tidak kuat menahan beban banyaknya supporter yang saling berdesakan. Sebanyak 39 supporter meninggal dunia dalam tragedi tersebut, Supporter banyak yang dapat kabur dari reruntuhan, tapi tidak sedikit yang terinjak dan terjepit reruntuhan. Pertandingan tetap berjalan meski harus di tunda selama 2 jam, dan Juventuslah yang menjadi juara dengan skor 1-0, gol yang di cetak Michael Platini dari titik putih. Tidak ada selebrasi perayaan dalam pertandingan tersebut karena para pemain, official dan perangkat pertandingan langsung di evakuasi menuju tempat yang aman. Dan bahkan pemain tidak tahu jika ada korban dalam insiden tersebut.
Pasca tragedi tersebut, penyelidikan di lakukan okleh UEFA. Dan menurut The Eye kepolisian Inggris telah menangkap 14 dari 26 supporter Liverpool dengan kasus penganiayaan dan pembunuha atas tragedi tersebut. Maka 30 Mei 1985, Gunter Scheider selaku penyelidik resmi dai UEFA menyatakan Liverpool bersalah. Dan 2 hari berselang UEFA secara resmi melarang seluruh klub Inggris untuk ambil bagian dalam kejuaran seluruh dunia selama 5 tahun dan tambahan 3 tahun untuk Liverpoo. Meskipun Liverpool mendapat dispensasi penangguhan 1 tahun. Hal ini membuat Liverpool bisa di bilang di benci oleh seluruh klub dan supporter Inggris. Karena Manchester United, Arsenal, Everton, Nottingham Forest, Chelsea, Tottenham Hotspur harus mengubur mimpinya berkiprah di liga eropa musim berikutnya. Selain itu, FA sebagai otoritas tertinggi sepakbola Inggris ikut berbenah kala itu, perlahan batas di tribun mulai di copot dan meniadakannya tribun berdiri. Karena menurut FA 2 hal tersebut menjadi salah satu pemicu adanya Hooligan yang sangaat kental pada waktu itu di Inggris.
Meski pertikaian Juventini dan Liverpoolian masih ada setelah kejadian tersebut, namun pada 29 mei 2005 pertikaian itu berakhir di tandainya dengan membangun tugu di dekat stadion Hesley dan membunyikan lonceng sebanyak 39 kali di Liverpool. Bahkan saat Juventini bertandang di anfield di 2005, Liverpoolian menyambut dengan Mozaik bertuliskan “Amicizo” atau persahabatan pada Juventini, sekaligus sebagai bentuk permintaan maaf Liverpoolian atas Juventini pada Tragedi tersebut.
Komentar
Posting Komentar