Renungan #3
Siang begitu terik, namun masih ada asa cinta atas kebanggaanku untuk klub ini. Ku ingat ketika ku baca sejarah awal klub ini terbentuk, bisa ku simpulkan klub ini ada karena adanya gotong royong. Bagaimana tidak klub ini berdiri dari klub-klub lokal . Tak jauh berbeda dengan kultur di negeri tercinta ini. Kultur itu terus di bangun hingga sampai saat ini. Gotong royong yang menuruku dari kata saling "nggotong" atau dalam bahasa jawa mengangkat bersama dan "royong" yang maksutnya bersama atau kebersamaan. Filosofi ini secara tidak langsung di maknai dalam klub ini. Kebudayaan gotong royong juga masih sangat terlihat dari sekeliling masyarakat Sleman, hingga saat ini. Filosofi gotong royong juga sangat kental di sisi supporter. Keinginan untuk jauh lebih mandiri dengan bersama-sama membangun kemajuan klub ini. Dari tahun ke tahun klub ini terus di sokong bersama dengan berbagai cara, supporter terus saling menopang untuk menghidupinya. Banyak sekali historia yang berada di dalamnya. Sebagian orang melihat ini hanyalah klub kecil di lereng gunung merapi, namun suara lantang yang terus di gemuruhkan, tak serta merta membuat klub kecil ini tak sepi akan pergolakan. Yah, ku adalah satu di antara gemuruh itu. Satu demi satu suara untuk klub kecil ini, terus menumbuhkan asa dan harapan. Adakah yang mulai lelah ? , Tentu saja tidak. Karena filosofi gotong royong untuk saling menopang masih terus di tanamkan. Ku melirik dari segala penjuru ada banyak suara yang peduli dan percaya bahwa klub ini akan terus maju, entah dengan lesatan pesat atau perlahan. Yang perlu di garis bawahi adalah tak ada kata kemunduran, yang ada hanya ada maju.
Euphoria yang diciptakan seantero tribun membuatku merinding, berbeda beda tetap satu tujuan untuk mendukung klub kecil ini. Tak peduli latar belakang,jabatan, hingga agama semua saling sinergi bergotong royong menggenapi doa dengan suara lantang dengan kata - kata yang universal. Semua ada di akhir dan harapan yang sama, yaitu JUARA ...
Komentar
Posting Komentar