Renungan #1

Bangun tidur mataku masih sembab karna kantuk, dengan masih terus meamandangi klub ini dari kejauhan. Tak henti dengan banyak sekali diskusi dimanapun kita berada. Ku hanya sedikit menepi meski hati tetap ini ingin menambat. Ku menyeletuk mencintai sleman apakah sesakit ini?, Ku tetap bertahan dengan menjalani hidup dengan PSS. Entah sekedar lagu sehari –hari ataupun atribut yang kini mulai ku terus pakai. Mungkin hanya itu yang bisa ku lakukan untuk tetap memelihara PSS di hati. Jujur, ku pernah menepi seperti ini karna tragedi “gajah” dahulu kala. Namun, akhirnya ku kembali karena ku tumbuh bersamanya. Mungkinkah ini balasan untukku ketika ku mencoba menepi kemarin ?, Ku kira tidak. ku sebut menepi bukan meninggalkan.
                Apa yang sudah ku bangun untuk tetap memegangi klub ini agar tetap ada di hati, tak bisa leyap begitu saja. Banyak kesenangan, kebanggaan, kesedihan yang terkenang. Benarkah ini nyata dengan vakum ketika PSS berlaga ?, Ku ta bisa membayangkan akan seperti apa dan bagaimana jadinya perasaan ini?, Ohh... mungkin bukannya tak peduli namun kita hanya melihatnya dari kejauhan. Ku tak bisa mengitup dari manapun untuk melihat situasi saat ini. yahh.. karena tak bisa di samakan dengan peristiwa manapun. Mungkin banyak yang bilang pergerakan ini seperti halnya kebanyakan supporter jerman, yang paling ku ingat hanya penolakkan “Monday Night Footbal” yang di habisi supporter jerman, saat kapitalisme berusaha menabrak sepakbola jerman, supporterlah yang berbicara. Ini terjadi hanya karena adanya siaran sepak bola pada senin malam yang tercium adanya hak siar agar kerukan uang yang besar. Banyak supporter yang menolak adanya hal itu. Pergerakan supporter saat itu salah satunya boikot pertandingan yang di lakukan “The Yellow Wall” . Akankah seperti itu gerakan kita untuk PSS saat ini ?, Haruskah sekeras itu menampar klub ini ?. Entahlah, ku tak bisa banyak berfikir saat ini. Hanya bisa melakukan apa yang bisa kulakukan. Penuntutan ini sebenarnya tidak berlebihan untuk memenuhi aset klub, dan itu sudah kewajiban klub untuk merealisasikan tuntutan tersebut. Bukankah harusnya bersyukur ketika mempunyai supporter yang kritis ? . Pernyataan Boikot untuk PSS sebenarnya masih lingkup ruang yang masih kecil bila di bandingkan dengan penolakan Monday Night Football. Entahlah, Semoga lekas sembuh PSSku...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

12 #TulisanRingan : LIGA INDONESIA, KAPAN?

"Bengal Brigade" Ultras ber-Akulturasi

13 #BacktoFuture : Sejarah yang terulang PS Sleman 2018